Mataku tertuju pada sebuah buku di tumpukan buku2 lama di kamarku. Aku mengenalinya, sangat mengenalinya sebagai buku yang sarat kenangan. Kubuka satu per satu halamannya.. lalu seolah pikirku menjelajah waktu, kembali ke masa kisah-kisah dalam buku itu dituliskan. aku berhenti di suatu halaman..
Jatuhkan air mata beningmu
Saat sayap tangguhmu tak lagi bisa
Menopang perih luka hati
Teriaklah sekuat tenagamu
Agar terlempar semua sesal kalbumu
Dan samar raut wajahmu
Aku tersadar telah bersandar
Pada tiang yang mudah patah
Pada pasak yang mudah menyerah
Kita berdua tak bersalah
Deraikanlah gelak tawa di sudut bibirmu
Di tengah peluk cium sosok sahabat
Saat itulah kau temukan
Apakah arti kebersamaan
Lalu kau akan mengerti seperti itulah
Cinta sejati…
-The sylph
Kubaca lagi puisi itu, bergetar dadaku. Ah, aku teringat
betapa seseorang pernah menjadi rapuh olehku. Meskipun aku tahu, ia sangatlah
kuat, ya..ia begitu tegar dengan senyumnya.
Pagi itu Pak Handoko seperti biasa dengan lelucon2nya yang
ga lucu mengajar bahasa Indonesia di kelas kami. Bapak yang satu ini memang
gemar melempar guyonan, yang lucunya..selalu ga lucu!