Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Friday, 15 February 2013

Biar menjadi kisah



Mataku tertuju pada sebuah buku di tumpukan buku2 lama di kamarku. Aku mengenalinya, sangat mengenalinya sebagai buku yang sarat kenangan. Kubuka satu per satu halamannya.. lalu seolah pikirku menjelajah waktu, kembali ke masa kisah-kisah dalam buku itu dituliskan. aku berhenti di suatu halaman..

Jatuhkan air mata beningmu
Saat sayap tangguhmu tak lagi bisa
Menopang perih luka hati
Teriaklah sekuat tenagamu
Agar terlempar semua sesal kalbumu
Dan samar raut wajahmu
Aku tersadar telah bersandar
Pada tiang yang mudah patah
Pada pasak yang mudah menyerah
Kita berdua tak bersalah
Deraikanlah gelak tawa di sudut bibirmu
Di tengah peluk cium sosok sahabat
Saat itulah kau temukan
Apakah arti kebersamaan
Lalu kau akan mengerti seperti itulah
Cinta sejati…

                                                -The sylph

Kubaca lagi puisi itu, bergetar dadaku. Ah, aku teringat betapa seseorang pernah menjadi rapuh olehku. Meskipun aku tahu, ia sangatlah kuat, ya..ia begitu tegar dengan senyumnya.

Pagi itu Pak Handoko seperti biasa dengan lelucon2nya yang ga lucu mengajar bahasa Indonesia di kelas kami. Bapak yang satu ini memang gemar melempar guyonan, yang lucunya..selalu ga lucu!

DUARR



Tak bisa kuelakkan lagi, kau mulai menginspirasi dalam puisi2ku.. menjelma menjadi barisan kata dalam setiap curahan perasaan. Aku buka kembali file2 puisi buatanku beberapa hari terakhir, kenapa semuanya tentang kau, aku mendesah.. Begitu tak adilnya, tiap detikku kuhabiskan untuk memimpimu. Padahal saat itu kau hanya datang sambil membawa senyuman, tak lebih, tak pula sepatah kata untukku. Lalu kenapa senyuman itu seolah mengubah semua duniaku?

Kulirik jendela.. hujan masih menggantung di awan. Hmm.. cuaca yang sangat tepat untuk galau, --istilah alay mereka bilang. Lalu kuingat lagi pertemuan kita. Tunggu dulu,, apakah kita pernah bertemu? Astaga.. kau hanya hadir lewat sehelai gambar. Ya, foto yang diperlihatkan padaku oleh kakakmu.

“Fan, ini adikku yang lagi study di Australia, Rita.

Sunday, 27 January 2013

Candu di sebuah kantor pos



Pagi ini aku harus bisa melihatnya, begitu tekadku. Ya, akhir-akhir ini semangatku muncul dari balik meja kerja sebuah kantor pos. secuil senyum yang kutemui di sana, tak bisa kujelaskan bagaimana ia masuk ke tiap sel darahku, mengalir ke seluruh tubuh dengan cepat, lalu entah apa istilahnya, yang pasti membuatku bersemangat. Mungkin kalau kuibaratkan adalah di dalam tubuhku ada sebuah tungku, lalu senyum itulah yang membakarnya, membuat tubuhku panas dan bergairah. Sayangnya, itu membuatku kecanduan. Seolah merasa sakaw, tubuhku tak bisa tenang ketika tak bisa melihat meja kerja itu. Ya, karena di balik meja kerja itulah bisa kudapatkan putaw untuk mengobati sakaw-ku.

Berawal dari niatku mengirimkan paket untuk saudaraku, iseng-iseng aku mengirimnya lewat kantor pos itu, yang jelas2 jauh dari rumahku dan jarang sekali kudatangi. Sial,